[javascript protected email address]
Sehat dengan nutrisi dari alam Indonesia.

Nutraceutikal, Makanan Fungsional

Waktu baca ± 3 menit

serat

Dengan perkembangan ilmu dan teknologi saat ini, Fungsi pangan bukan hanya sekedar untuk pemenuhan kebutuhan energi sehari-hari saja, tapi juga dapat berfungsi sebagai pemelihara kesehatan dan kebugaran. Bahkan bisa lebih jauh lagi, yaitu pangan harus dapat mencegah, menyembuhkan atau menghilangkan efek negatif dari penyakit tertentu. Kenyataan tersebut menuntut bahan pangan tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan dasar tubuh yaitu bergizi dan lezat, tetapi juga harus dapat bersifat fungsional.

Makanan yang kita konsumsi sehari-hari umumnya hanya sekedar untuk mencukupi kebutuhan tubuh akan energi dan zat-zat gizi, baik makro maupun mikro. Namun seiring dengan perkembangan zaman, dimana dengan semakin meningkatnya perkembangan penyakit degeneratif, maka fungsi makanan bukan lagi hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi saja, melainkan juga sebagai pemelihara kesehatan dan tujuan pengobatan.

Seorang Filsuf Yunani Kuno, yang dianggap sebagai Bapak Kedokteran Masa Kuno, yang bernama Hipocrates, pernah menyatakan sebuah slogan yang berbunyi

“Let your food be your medicine and let your medicine be your food”

(jadikanlah makananmu sebagai obatmu dan obatmu sebagai makananmu).  Berdasarkan konsep beliau lah lahir suatu konsep baru bernama Makanan fungsional.

Sifat fisiologis dari pangan fungsional ditentukan oleh komponen bioaktif yang terkandung di dalamnya, misalnya serat pangan, inulin, FOS, antioksidan, PUFA, prebiotik dan probiotik. Ada beberapa istilah untuk makanan yang berpengaruh baik terhadap kesehatan yaitu : Functional food, Nutraceutical, Pharma food, Designer food, Vita food, Phytochemical, Food aceutical, Health food, Natural food dan Real food

Definisi Makanan Fungsional

Makanaan fungsional atau di sebut juga nutraceutical adalah makanan yang karena kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, di luar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya. Makanan fungsional harus memenuhi persyaratan sensori, nutrisi dan fisiologis. Telah dipercayai bahwa makanan fungsional dapat mencegah atau menurunkan penyakit degeneratif.

Menurut Goldberg (1994) pangan fungsional adalah makanan yang berasal dari ingredient alami. Dapat dan harus dikonsumsi sebagai bagian dari diet harian dan memiliki fungsi tertentu bila dicerna, membantu mempercepat proses tertentu dalam tubuh seperti: meningkatkan mekanisme pertahanan secara biologis, mencegah penyakit tertentu, penyembuhan dari penyakit spesifik, mengendalikan kondisi fisik dan mental, dan menghambat proses penuaan.

The International Food Information mendefinisikan pangan fungsional sebagai pangan yang memberikan manfaat kesehatan di luar zat-zat dasar. Menurut konsensus pada The First International Conference on East-West Perspective on Functional Foods tahun 1996, pangan fungsional adalah pangan yang karena kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, di luar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya. (Astawan, 2011).

Definisi pangan fungsional menurut Badan POM adalah pangan yang secara alamiah maupun telah melalui proses, mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan kajian-kajian ilmiah dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan. Serta dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan atau minuman, mempunyai karakteristik sensori berupa penampakan, warna, tekstur dan cita rasa yang dapat diterima oleh konsumen. Selain tidak memberikan kontra indikasi dan tidak memberi efek samping pada jumlah penggunaan yang dianjurkan terhadap metabolisme zat gizi lainnya.

Jenis-jenis makanan fungsional

Makanan fungsional dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu berdasarkan sumbernya dan cara pengolahan.

Berdasarkan sumbernya

Makanan fungsional dibedakan menjadi makanan fungsional nabati dan makanan fungsional hewani. Makanan fungsional nabati adalah makanan fungsional yang berasal dari tumbuhan, contohnya: Oat, Buah Pisang, bekatul, alga, kedelai, beras merah, tomat, bawang putih, anggur, teh dan sebagainya. Makanan fungsional hewani adalah makanan fungsional yang berasal dari hewan, contohnya: ikan, kolagen, susu dan produk-produk olahannya.

Berdasarkan cara pengolahannya

Makanan fungsional dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu: makanan fungsional alami, makanan fungsional tradisional dan makanan fungsional modern. Makanan fungsional alami adalah makanan yang tersedia di alam dan tidak mengalami proses pengolahan, contohnya adalah buah-buahan dan sayur-sayuran yang dimakan segar.

Makanan fungsional tradisional adalah makanan fungsional yang diolah secara tradisional, contohnya: tempe, dadih, dan sebagainya. Makanan fungsional modern adalah makanan fungsional yang dibuat secara khusus dengan menggunakan perencanaan dan teknologi khusus.

Contohnya adalah makanan yang bisa digunakan untuk terapi pengobatan penyakit diabetes dan sel abnormal  seperti Produk Alga Gold dan Produk Alga Tea. Produk ini kaya mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan oleh, antioksidan, serat dan senyawa fungsional lain yang dapat menurunkan respon gula darah, kolesterol, regenerasi sel, perbaikan kerusakan organ lambung sehingga sangat baik untuk penderita gangguan lambung, diabetes dan penyakit sel abnormal.

Komponen makanan fungsional

Komponen makanan fungsional dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: zat gizi dan non gizi. Zat gizi dapat berupa zat gizi makro yang mempunyai efek fisiologis, contoh : Pati resisten (resistant starch), asam lemak omega 3 atau zat gizi mikro yang jumlah konsumsinya melebihi rekomendasi konsumsi per hari.

Komponen non gizi contohnya adalah mikroorganisme atau bagian kimia dari tumbuhan. Komponen bioaktif dari makanan fungsional adalah:

  1. Zat gizi: asam amino, beberapa jenis protein, asam lemak tak jenuh ganda (PUFA atau polyunsaturated fatty acids), vitamin, mineral, dsb.
  2. Non gizi : serat pangan, Leucocyanidin dan quercetin, Beta Glukan, prebiotik, probiotik, fitoestrogen, fitosterol dan fitostanol, poliphenol dan isoflavon, gula alkohol, bakteri asam laktat, dsb.

Contoh senyawa-senyawa fungsional, diantaranya adalah sebagai berikut ini:

  • Senyawa beta karoten berfungsi untuk menetralisir radikal bebas yang dapat merusak sel, meningkatkan pertahanan antioksidan seluler, dapat di rubah menjadi vitamin A di dalam tubuh. Sumbernya bisa berasal dari wortel dan ubi jalar.
  • Senyawa Likopen berperan dalam menjaga kesehatan prostat. Dapat berasal dari anggur, semangka dan tomat.
  • Serat pangan tak larut berfungsi untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan, menurunkan resiko kanker. Sumbernya dapat berasal dari bekatul, gandum dan jagung.
  • Serat pangan beta glukan yang bermanfaat untuk menurunkan resiko penyakit jantung. Sumber makanannya dapat berasal dari bekatul, oat dan barley.
  • Flavonoid (antosianin,flavonon, flavonol dll) berperan untuk meningkatkan pertahanan anti oksidan seluler, berperan dalam menjaga fungsi otak, berperan dalam menjaga kesehatan jantung, menetralkan radikal bebas yang dapat merusak sel. Sumbernya bisa berasal dari buah berry, teh, kakao, cokelat, bawang, brokoli.

 


Dipublikasikan tanggal 31 Aug 2021 08:00, dilihat: 174 kali
 https://alga-rosan.com/p409