[javascript protected email address]
Sehat dengan nutrisi dari alam Indonesia.

Coklat

Waktu baca ± 4 menit

coklat

Anda mungkin tahu bahwa cokelat mengandung banyak manfaat bagi kesehatan. Norman Hollenberg, seorang profesor bidang radiologi di Harvard Medical School, meneliti tentang gen yang berfungsi melindungi manusia dari kenaikan tekanan darah.

Hollenberg kemudian meneliti suku Kuna, suatu suku yang sudah terisolasi hampir selama 500 tahun, di mana kejadian hipertensi dalam suku tersebut sangat jarang dan risikonya tetap rendah seiring dengan pertambahan usia. Setelah diteliti, ternyata suku Kuna bisa mengonsumsi hingga lima gelas minuman cokelat per harinya.

Ada apa di dalam cokelat?

Cokelat yang digunakan suku Kuna lebih kaya akan senyawa flavanol. Selain itu cokelat tersebut juga menstimulasi tubuh memproduksi suatu senyawa yang disebut nitrat oksida. Berbentuk gas, senyawa ini biasa ditemukan dalam asap rokok.

Meskipun begitu, nitrat oksida yang dihasilkan dari cokelat memiliki potensi sebagai pengobatan untuk tekanan darah tinggi, arteri yang tersumbat, gagal jantung kongestif, stroke, dementia, sampai hipotensi. Pernyataan ini disampaikan oleh Thomas Michel, profesor di bidang medicine Harvard Medical School, seperti dikutip dari Harvard Gazette.

Manfaat cokelat menurut Hollenberg, berada pada flavanolnya. Flavanol dalam cokelat ini mengaktifkan gen dalam tubuh untuk memproduksi nitrit oksida. Nitrit oksida bekerja dengan cara merelaksasi pembuluh darah sehingga meningkatkan aliran darah beserta oksigen ke organ-organ tubuh.

Selain nitrit oksida, kandungan antioksidan dalam cokelat juga dapat membantu menurunkan risiko penyakit. Antioksidan membantu tubuh menangkal efek buruk dari radikal bebas yang bisa menyebabkan kerusakan pada sel-sel tubuh.

Hollenberg kemudian melakukan eksperimen terkait efek cokelat pada peredaran darah. Mereka yang berusia lebih dari 50 tahun diminta untuk mengonsumsi minuman cokelat yang kaya akan flavanol. Ternyata aliran darah mereka menjadi lebih lancar.

Begitu juga ketika eksperimen tersebut dilakukan terhadap orang yang berusia lebih muda. Flavanol memberi efek yang kurang lebih sama. Hasil dari eksperimen ini memberikan harapan untuk pengobatan penyakit yang berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif pada usia lanjut. Dengan melancarkan aliran darah ke bagian otak, diharapkan pencegahan penyakit dementia dapat dilakukan.

Lalu bagaimana dengan lemak yang terdapat pada cokelat? Lemak dalam cokelat berasal dari cocoa butter yang terdiri dari asam oleat (termasuk dalam jenis lemak tidak jenuh) serta stearat dan asam palmitat yang termasuk dalam lemak jenuh. Lemak jenuh ini hanya berjumlah sepertiga dari keseluruhan lemak yang ada pada cokelat. Namun, jika dikonsumsi terlalu banyak manfaat cokelat bagi kesehatan bisa berkurang dan justru menyebabkan penyakit.

Apakah semua jenis cokelat baik bagi kesehatan?

Sebelum Anda terburu-buru memborong cokelat di supermarket, Anda harus mengetahui jenis cokelat seperti apa yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Yang dimaksud dengan minuman cokelat yang dikonsumsi oleh suku Kuna adalah cokelat murni yang berasal dari pohon kakao. Suku Kuna menanam dan kemudian memproses cokelat mereka sendiri.

Tidak semua produk cokelat mengandung kadar flavanol yang tinggi. Cokelat atau kakao yang alami memiliki rasa yang kuat karena kandungan flavanolnya. Saat kakao diproses menjadi produk olahannya, beberapa perlakuan (seperti fermentasi, pemanggangan, dan seterusnya) menyebabkan kadar flavanol menurun.

Semakin banyak tahapan dan proses yang dilalui, maka semakin banyak pula flavanol yang hilang. Selain itu cokelat yang dijual komersil biasanya sudah melalui banyak proses baik penambahan pemanis, susu, penstabil, lemak, dan lain-lain. Ini menjadikan cokelat tidak lagi murni dan kadar flavanolnya jauh berkurang jika dibandingkan dengan cokelat yang dikonsumsi oleh suku Kuna.

Cokelat yang kurang sehat

Untuk mendapatkan manfaat cokelat, pilihlah jenis dark chocolate. Tipe cokelat ini biasanya memiliki rasa yang sedikit pahit, karena kandungan kakaonya yang masih banyak. Hindari jenis cokelat yang berlabel milk chocolate, rasanya lebih manis karena tambahan susu dan gula.

Jenis cokelat putih atau white chocolate juga sebaiknya dihindari karena dibuat dari cocoa butter, gula, dan susu sehingga tinggi dengan lemak jenuh.

Jika membeli cokelat bubuk, pilihlah jenis cokelat yang tidak melalui suatu proses yang disebut dutch proses. Pada proses ini, kakao akan dicampur dengan larutan potasium karbonat untuk menetralisir sifat asam dari kakao. Bubuk cokelat yang melewati dutch proses biasanya memiliki warna yang lebih gelap jika dibandingkan dengan bubuk cokelat alami.

Efek samping makan cokelat terhadap lambung

1. Cokelat menyebabkan otot sfingter esofagus melemas

Sebenarnya, cokelat sudah lama dijadikan salah satu makanan yang harus dihindari untuk orang yang memiliki masalah pencernaan, seperti refluks asam lambung (GERD). Pasalnya, makan cokelat bisa memicu gejala ketidaknyamanan dari penyakit tersebut.

Coklat mengandung methylxantine, senyawa yang membuat otot menjadi relaks. Dahulu para dokter menggunakan coklat untuk obat stress. Coklat sangat sedikit berpengaruh dalam merangsang sekresi asam lambung, dan efeknya akan muncul jika dosisnya tinggi. 

Dalam keadaan normal, cairan asam lambung dicegah agar tidak mengalami kebocoran sampai ke kerongkongan dari perut oleh sekelompok otot yang dikenal sebagai sfingter esofagus bagian bawah. Otot sfingter ini berfungsi seperti katup anti-refluks yang menutup rapat agar isi perut tetap menempel pada tempatnya.

Bila otot sfingter melemah, atau tidak berfungsi dengan baik, cairan asam lambung akan terdorong ke kerongkongan yang menyebabkan sensasi heart burn atau perih di kerongkongan, dada, dan lambung. Nah, coklat termasuk di antara makanan yang diyakini dapat memicu kenaikan asam lambung dengan menyebabkan otot sfingter melemas dan asam lambung pun naik.

Dikutip dari laman Healthline, selain makan cokelat, ada beberapa hal lain yang juga bisa menyebabkan otot sfingter mengendur sehingga menimbulkan sensasi heart burn, yaitu:

  • Buah citrus (jeruk mandarin, lemon, jeruk nipis, jeruk bali, dan sebagainya)
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Tomat
  • Kopi
  • Alkohol
  • Merokok

2. Lemak yang terkandung dalam cokelat juga bisa menyebabkan refluks

Cokelat pada dasarnya mengandung lemak dalam jumlah yang berbeda-beda, tergantung pada jenisnya. Termasuk makanan yang mengandung beberapa persen cokelat di dalamnya juga bisa mengandung lemak.

Kandungan lemak ini bisa memperlambat pengosongan perut, yang bisa menyebabkan isi lambung kembali ke kerongkongan. Di samping itu, mencerna makanan yang mengandung lemak tinggi juga bisa menyebabkan perut menghasilkan lebih banyak asam yang pada akhirnya bisa menyebabkan asam lambung naik.

Milk chocolate mengandung lebih banyak lemak daripada jenis dark chocolate atau cokelat hitam. Sayangnya, dark chocolate memiliki kandungan kafein yang jauh lebih tinggi daripada milk chocolate. Dark chocolate mungkin tidak seburuk milk chocolate yang tinggi akan lemak, tapi dua hal lainnya tetap bisa memicu asam lambung karena kafein adalah zatstimulan usus yang bisa memperburuk masalah pencernaan bagi mereka yang memang memiliki pencernaan sensitif.

Coklat pada produk Alga Series

Coklat pada Alga Gold Cereal adalah coklat original yang dipakai untuk menambah rasa agar lebih enak, selain itu antioksidan dari original coklat juga diperlukan untuk proses penyembuhan gangguan lambung. Khasiat coklat sebagai penurun stress juga diperlukan untuk pengobatan gangguan lambung.

Coklat pada AG sereal juga kadarnya sangat kecil sehingga ketakutan akan dampak resiko produksi asam lambungnya sebenarnya tidak beralasan.

Coklat batangan yang beredar di Pasaran adalah campuran minyak nabati padat, coklat flavour, coklat original dan gula. Coklat batangan inilah yang menyebabkan gangguan pada lambung.

 


Dipublikasikan tanggal 07 Jun 2021 08:00, dilihat: 173 kali
 https://alga-rosan.com/p359