[javascript protected email address]
Sehat dengan nutrisi dari alam Indonesia.

Kanker yang membunuh: faktor resiko lingkungan dan gaya hidup lebih dominan ketimbang genetik

Waktu baca ± 4 menit

kanker2310

Kanker darah atau yang lebih sering dikenal sebagai leukemia adalah pertumbuhan abnormal sel darah putih dan tidak terkontrol produksinya di sumsum tulang atau jaringan limfoid. Akibatnya akan menekan produksi sel darah merah yang juga ada pada sumsum tulang, sehingga transportasi hemoglobin terganggu dan penderita akan menjadi pucat dan lemah. Tambahan lagi, produksi sel darah putih yang abnormal tidak dapat berfungsi dalam kekebalan tubuh sebagaimana seharusnya. Secara nasional di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat angka kejadian (prevalensi) kanker mencapai 1,4 per seribu penduduk. Umumnya tersebar pada enam penyakit kanker utama: kanker paru, payudara, usus besar, hati, leher rahim, dan prostat.

Kanker bagaikan vonis mati bagi seseorang, karena rendahnya tingkat kesembuhan dan tingginya angka kematian. Hal ini disebabkan tidak saja karena siaftnya yang mematikan, tetapi keterlambatan pasien dalam penanganan sehingga seringkali tindakan baru diambil setelah dalam keadaan stadium lanjut. Sejumlah riset menunjukkan faktor lingkungan dan gaya hidup lebih dominan ketimbang faktor genetik dalam faktor terjadinya penyakit kanket.

Kanker yang mengancam

American Cancer Society mencatat jumlah penderita kanker secara global dan dikelompokan berdasarkan data insiden, prevalensi, dan mortalitas kanker. Pada tahun 2019 tercatat sekitar 18 juta penderita, dan dengan populasi dunia mencapai 7,7 miliar orang, maka angka prevalensi kanker mencapai 2,3 per seribu penduduk. Prevalensi kanker ini didominasi oleh kanker paru (11,6%) pada laki-laki dan perempuan, lalu kanker payudara (11,6%), kanker prostat (7,1%), dan kanker usus besar (6,1%).

Angka kematian tertinggi terjadi pada kanker paru, yaitu 18,4% dari semua kasus kanker yang terdiagnosis, diikuti kanker usus besar 9,2% dan kanker hati 8,2%. Sedangkan khusus pada perempuan, kanker payudara merupakan penyebab kematian terbanyak, yaitu 25,1%. Meski telah dilaporkan pada berbagai penelitian tentang angka mortalitas berbagai penyakit kanker, tapi angka tersebut merupakan estimasi rata-rata pada kasus yang telah terdiagnosis di rumah sakit. Tingkat kesembuhan yang rendah dan angka kematian yang tinggi pada penyakit kanker sangat ditentukan oleh jenis sel, stadium, kondisi pasien, dan ada atau tidaknya penyakit penyerta.

Pada kanker paru, misalnya, secara rata-rata pada semua stadium jenis small cell (salah satu jenis kanker paru), angka bertahan hidup sampai lima tahun hanya sekitar 6% atau dengan angka kematian mencapai 94%. Sedangkan jenis non-small cell angka bertahan hidup mencapai 18% (angka kematian 89%) dalam lima tahun.

Namun bila dilihat kondisi pasien dan berdasarkan stadium panyakit, kanker jenis non-small cell tersebut pada stadium awal (I) dapat bertahan 45-49% dalam lima tahun. Angka bertahan hidup ini akan menurun seiring dengan peningkatan stadium penyakitnya, seperti pada stadium II berkisar 30% dalam lima tahun. Kemudian jika sudah terdianosis pada stadium III, yang berarti sudah mengalami metastase atau menjalar ke organ lainnya melalui aliran darah, estimasi angka harapan hidupnya hanya mencapai 8 bulan.

Begitu juga dengan kanker payudara. Angka bertahan hidup pada stadium I dalam lima tahun mencapai 88,1-100%, tapi pada stadium IV menurun hingga 4,2%.

Faktor resiko di sekitar kita

Berbagai faktor resiko berperan terhadap munculnya kanker, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan dan gaya hidup. Faktor ini seperti zat-zat yang memicu kanker atau karsinogen, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, konsumsi rendah serat, dan kurang aktifitas fisik.

Faktor genetik berperan sebagai resiko kanker yang menyebabkan perubahan sifat pertumbuhan sel. Faktor gen tersebut berperan sebagai precursor (pendahulu) terjadinya kanker, yang disebut sebagai onkogen, seperti gen p53 dan gen rb pada kanker paru, dan gen BRCA1 dan BRCA2 pada kanker payudara.

Pada faktor resiko lingkungan, berbagai zat telah terbukti bersifat pemicu kanker termasuk tar, rodon, karbon monoksida, formaldehid, benzene, arsenic, asbestos, aflatoxin, dioksin, mercury, karbon monoksida (CO), dan lain sebagainya. Sebagian besar karsinogen tersebut muncul adalah akibat perilaku seperti merokok, asap kendaraan bermotor, dan pembakaran sampah plastik.

Benzenne, terdapat pada asap kendaraan bermotor dan juga asap rokok, berpotensi sebagai resiko kanker darah (leukemia). Arsenik merupakan logam berat beracun yang bisa ditemukan pada makanan laut dan air yang tercemar, dan tanah, menjadi resiko kanker kulit, kanker paru, dan kandung kemih.

Karbon monoksida ditemukan pada pembakaran sampah, asap kendaraan bermotor, pembakaran benda organik dan rokok, beresiko terhadap kanker paru. Dioksin dapat dihasilkan oleh pembakaran sampah plastik dan beresiko terhadap kanker paru dan kanker lainnya.

Mutasi abnormal pada sel

Zat karsinogenik tersebut dapat memicu kanker bila terhirup melalui pernafasan atau mengkontaminasi makanan. Sel tubuh yang terpapar karsinogen akan berubah sifat dengan tumbuh tidak terkontrol. Mekanisme terjadinya kanker ini melalui proses yang sangat kompleks, yang melibatkan proses molekuler, seluler, genetika, dan melalui interaksi faktor resiko lingkungan tersebut.

Pada mekanisme tingkat sel dan molekuler, kanker terjadi melalui perubahan sifat sel. Pada tahap awal terjadi perubahan kode genetik atau mutasi abnormal pada sel tersebut yang dikenal dengan proses inisiasi. Meskipun ada faktor precursor genetik, namun paparan dengan zat karsinogenlah yang memicu terjadinya mutasi abnormal tersebut.

Perubahan kode genetik inilah yang akan mengontrol pertumbuhan dan perkembangan sel selanjutnya, sehingga sel-selnya mengalami perubahan sifat. Sel-sel tersebut berkembang dan bertambah banyak melebihi batas normal, sehingga organnya terus membesar, yang dikenal sebagai tahapan progresi. Cepat-lambat perkembangan kanker juga dipengaruhi oleh genetik orang tersebut, besarnya paparan terhadap resiko, dan respon hormonal tubuhnya.

Berdasarkan mekanisme terjadinya perubahan sel menjadi sel kanker, serta pertumbuhan dan perkembangan organ, maka dapat dilihat bahwa faktor lingkungan lebih memegang peranan penting dibanding faktor genetik. Meski terdapat precursor genetik, adanya paparan resiko lingkungan sangat menentukan seseorang terkena kanker.

Bagaimana mengurangi resiko?

Melihat kepada besarnya faktor resiko di Indonesia saat ini seperti perilaku merokok yang tinggi, konsumsi rendah serat, dan pembakaran sampah plastik yang masih umum di masyarakat, resiko kanker ke depan sangat besar. Jumlah perokok aktif di Indonesia berusia di atas 15 tahun mencapai sekitar 65 juta. Berbagai penelitian membuktikan bahwa perokok beresiko terkena kanker paru 20 kali hingga 100 kali dibandingkan yang tidak merokok. Zat karsinogen pada rokok akan merusak jaringan mesenkim dan epitel paru sehingga menimbulkan inflamasi seluler dan terjadinya mutasi genetik.

Resiko kanker tidak hanya pada perokok aktif, tapi juga pada perokok pasif. Terlebih lagi, resiko ini tidak hanya pada perokok pasif langsung yang menghisap asap rokok dari hembusan perokok (secondhand smoking), tapi juga perokok pasif yang mendapat ‘racun’ rokok yang telah melengket pada lingkungan sekitar (thirdhand smoking) seperti di karpet, sofa, dinding, gorden, dan lainnya.

Berdasarkan resiko tersebut, pencegahan terhadap penyakit kanker dapat dilakukan dengan memodifikasi lingkungan dan perilaku dan deteksi dini. Dalam konteks rokok, sudah saatnya pemerintah meningkatkan pengendalian tembakau agar akses terhadap rokok makin sulit dan konsumsinya menurun.

Dalam hal ini, Kementerian Kesehatan menggalakkan upaya pencegahan kanker pada masyarakat yang disebut dengan CERDIK (Cek kesehatan berkala, Enyahkan rokok, Rajin beraktifitas fisik, Diet sehat dan kalori seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stress). Upaya ini diharapkan dapat menekan resiko lingkungan yang dapat memicu terjadinya kanker. Tentu saja keterlibatan semua warga sangat penting untuk mencegah penyakit mematikan ini.

Sumber: Kompas

Alga tea drink mengandung beberapa zat aktif antara lain: kolagen halal, green tea dan rossela. Green tea yang mengandung tanin, bila di kombinasikan dengan kolagen dan bunga rossela ternyata membentuk senyawa koloidal tannin. Koloidal tanin ini merupakan senyawa aktif yang mampu menyerap, mengisolasi ke 4 faktor yang mengalami pesan yang di tangkap messenger RNA/DNA baik berupa radikal bebas, heavy metal (logam), toksin dan proksida.

Produk Terkait

Testimoni

Kanker Kelenjar Getah Bening
Suwenti
 
Kanker Usus
Azzam (66), Pamekasan
 

Dipublikasikan tanggal 09 Dec 2019 08:19, dilihat: 201 kali