[javascript protected email address]
Sehat dengan nutrisi dari alam Indonesia.

Mengapa Beras Pasaran Tidak Mengandung Bekatul?

Waktu baca ± 1 menit

beras

Bekatul dan beras adalah 2 bagian yang tidak terpisahkan saat beras berada di dalam bulir-bulir padi.  Mengapa ada beras dan mengapa ada bekatul? Ternyata hal ini muncul setelah ditemukannya mesin penggiling padi (selep=jawa), setelah padi digiling, maka akan dihasilkan biji beras yang warnanya keputihan disertai kulit sekam dan serbuk bekatul.

Pada jaman sebelum ditemukannya mesin penggiling padi  pada era sebelum tahun 1970-an , beras pada awalnya didapat dari proses penumbukan padi dengan alat tradisional yang namanya lesung. Dengan alat lesung ini biji padi ditumbuk beramai-ramai sehingga bijih beras terpisahkan dengan kulit padi.  Kualitas beras yang dihasilkan dari proses penumbukan padi ini didapatkan beras dengan warna kecoklatan, warna coklat pada beras dikarenakan beras tumbuk masih mengandung bekatul.

Saat masyarakat masih mengkonsumsi beras tumbuk (era sebelum th. 1970), data statistik  di tahun yang sama menunjukkan belum banyak muncul berbagai penyakit degeneratif seperti Hiperkolesterol, Hipertensi, Diabetes, Penyakit jantung, stroke, gangguan autoimun, kista, tumor ,kanker dsb. Namun setelah tahun 1970, saat masyarakat mulai mengkonsumsi beras poles,  saat tersebut mulai muncul penyakit degeneratif seperti Hiperkolesterol, Hipertensi, Diabetes, Penyakit jantung, stroke, gangguan autoimun, kista, tumor, kanker dsb. Hal ini artinya apa? Karena di tahun sebelum 1970 rata-rata masyarakat masih mengkonsumsi beras yang mengandung bekatul, sedangkan pada era sesudah th. 1970 rata-rata masyarakat hanya mengkonsumsi beras putih saja tanpa bekatul.  

Mengapa Bekatul yang terdapat pada beras justru dihilangkan? Beras tumbuk yang banyak dikonsumsi masyarakat di era 1970-an  yang dikenal masih mengandung tinggi kadar bekatul ternyata hanya bisa bertahan selama 2 s/d 3 hari saja, karena beras tumbuk tersebut mengalami proses tengik. Hal ini sangat tidak baik, karena  rasanya sangat tidak enak dan kurang layak dikonsumsi.  Bekatul yang sudah dikeluarkan dari biji padi, akan terpapar udara bebas sehingga mudah terhidrolisis dan berubah menjadi tengik. Bekatul adalah bahan pangan yang banyak mengandung fitosterol, kaya serat, berbagai vitamin dan mineral yang sangat diperlukan tubuh dalam menjaga kesehatan, sayangnya fitosterol yang terdapat dalam bekatul ini sangat mudah terhidrolisis sehingga mudah tengik. 

Jadi mengapa masyarakat di era sebelum 1970-an banyak yang sehat dan bebas dari penyakit degeneratif, hal ini disebabkan karena masyarakat di era tersebut masih makan beras yang mengandung bekatul sehingga kebutuhan akan serat, vitamin, dan mineral semuanya terpenuhi. Pemenuhan serat, vitamin dan mineral dapat diperoleh dari kebiasaan makan bekatul kondisi ini akan membuat semua orang akan ebih sehat. Bekatul adalah bahan makanan yang sangat penting dalam menjaga kesehatan.

Mengapa sekarang beras di pasaran sudah tidak mengandung bekatul, karena beras yang masih mengandung bekatul mudah mengalami proses tengik dan  mudah rusak. Karena bekatul diperlukan untuk tubuh, maka sebaiknya mulai memikirkan bagaimana menciptakan beras yang diperkaya kembali dengan bekatul namun terhindar dari proses tengik. 

Beras Karnus adalah Solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar hidup lebih sehat, bebas dari gangguan penyakit degeneratif. Beras Karnus berisi beras putih pertama yang dilengkapi bekatul dan dibungkus kantong aluminium foil. Dengan mengkonsumsi beras karnus, hidup berasa lebih sehat berenergi, nikmat dan terbebas dari penyakit degeneratif  yang jahat.

Produk Terkait


Dipublikasikan tanggal 17 Aug 2020 08:00, dilihat: 92 kali