[javascript protected email address]
Sehat dengan nutrisi dari alam Indonesia.

Mengenal Gangguan Saraf

Waktu baca ± 8 menit

sakit-kepala

Saat Anda mengalami gangguan saraf, tandanya ada suatu kondisi yang mengganggu kerja sistem saraf di dalam tubuh. Jika sudah demikian, Anda mungkin akan kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Namun, sering kali gejala gangguan saraf yang sudah dirasakan tidak dipedulikan hingga akhirnya kondisi yang Anda alami sudah terlalu parah. Oleh sebab itu, daripada mengobati, lebih baik Anda mencegah terjadinya gangguan saraf. Simak artikel berikut untuk penjelasan lengkapnya. 

Faktor Resiko

Dari banyaknya jenis gangguan saraf, jenis yang paling banyak dialami oleh masyarakat Indonesia adalah: 

  • Gangguan saraf karena pembuluh darah
  • Gangguan saraf karena infeksi 
  • Gangguan saraf karena trauma atau benturan 
  • Gangguan saraf karena neoplasma atau keganasan
  • Gangguan saraf karena masalah imunitas

Masing-masing gangguan saraf di atas rentan dialami oleh orang yang berbeda-beda. Sebagai contoh, gangguan pembuluh darah yang bisa berujung pada stroke biasanya rentan dialami oleh orang yang memiliki masalah kardiovaskular. Biasanya, orang yang rentan mengalami kondisi tersebut adalah pasien gangguan jantung, hipertensi, diabetes, hiperkolesterol, dan orang yang memiliki kebiasaan merokok. 

Selanjutnya, orang yang rentan mengalami gangguan saraf karena infeksi biasanya adalah pasien yang sistem kekebalan tubuhnya rendah. Hal ini biasanya dialami oleh pasien HIV, pasien autoimun karena mengonsumsi obat penekan respon imun, dan pasien pasca cangkok atau transplantasi. 

Sementara itu, orang yang rentan mengalami gangguan saraf karena trauma jumlahnya lebih banyak. Mengapa? Pasalnya, setiap orang yang menggunakan kendaraan bermotor memiliki kemungkinan untuk mengalami kecelakaan. Jika terjadi kecelakaan dan orang tersebut mengalami benturan, bisa saja ia mengalami gangguan saraf karena trauma. 

Lalu, gangguan saraf karena neoplasma rentan dialami oleh orang yang memiliki riwayat tumor atau kanker dalam keluarga. Artinya, orang yang sehat tapi memiliki anggota keluarga yang mengidap kanker juga berpotensi mengalami kondisi ini. 

Tidak ketinggalan, gangguan saraf karena gangguan imunitas akan rentan dialami oleh orang yang memiliki riwayat penyakit autoimun. Dari hal ini bisa disimpulkan bahwa kondisi ini memiliki cakupan yang amat luas dan bisa dialami oleh siapa saja. 

Gejala gangguan saraf

Meski gangguan saraf bisa dialami oleh siapa pun, bukan berarti semua orang paham gejala dari kondisi ini. Artinya, banyak gejala-gejala dialami tapi tidak disadari sebagai gangguan saraf. Padahal, jika dibiarkan terlalu lama dan tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menjadi semakin parah dan fatal. 

Berikut adalah beberapa gejala yang sering sekali diremehkan: 

Sakit kepala

Tidak sedikit orang yang sering menyepelekan sakit kepala. Bahkan, tidak jarang orang yang menganggap bahwa tidur adalah obat dari semua sakit kepala. Sayangnya, sakit kepala merupakan salah satu dari gejala gangguan saraf yang sering diabaikan.  Anda perlu tahu bahwa sakit kepala, mulai dari yang ringan hingga yang berat, merupakan gejala gangguan saraf. Oleh karenanya, jika Anda mengalami sakit kepala, tidak ada salahnya untuk memeriksakan diri ke dokter saraf. 

Rasa nyeri 

Rasa nyeri juga menjadi gejala yang kerap diremehkan. Nyeri yang merupakan gejala gangguan saraf bisa dialami di kepala, leher, kaki, tangan, hingga pinggang. Dengan kata lain, nyeri ini bisa dirasakan di seluruh atau sebagian tubuh Anda. 

Kesemutan dan kebas

Jika Anda duduk dalam posisi bersila terlalu lama lantas merasa kesemutan maupun kebas, itu hal yang wajar. Namun, jika Anda sering merasakan hal ini tanpa dipengaruhi oleh posisi tubuh, kondisi ini bisa menjadi pertanda bahwa Anda mengalami gangguan saraf. 

Kelemahan

Tidak sedikit orang yang salah mengartikan kelemahan. Sebagai contoh, saat tubuh terasa lemah, Anda mengira kondisi tersebut disebabkan oleh kecapaian. Padahal, kelemahan merupakan gejala gangguan saraf yang mungkin tak banyak orang ketahui. Anda disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter saraf jika tenaga mulai berkurang dan sering merasa lemah tanpa alasan. 

Gaya Hidup

Ada kebiasaan atau gaya hidup yang bisa memengaruhi fungsi saraf. Pengaruh yang diberikan ini tergantung pada gaya hidup yang Anda jalani. Artinya, ada gaya hidup yang bisa memberikan pengaruh baik, tapi ada pula yang bisa memberikan pengaruh buruk pada kesehatan saraf Anda. 

Pengaruh Buruk

Salah satu gaya hidup yang bisa memberikan pengaruh buruk terhadap fungsi saraf serta kesehatan tubuh Anda secara menyeluruh adalah merokok. Pasalnya, paparan zat kimia yang terkandung di dalam rokok berpotensi menyebabkan penyumbatan pembuluh darah di otak.  Selain gaya hidup yang kurang sehat seperti merokok, kebiasaan-kebiasaan kecil yang Anda lakukan sehari-hari juga bisa menyebabkan Anda mengalami gangguan saraf.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut misalnya melakukan posisi duduk, berdiri, atau tiduran yang salah. Selain itu, beberapa kebiasaan lain yang bisa menjadi penyebab terjadinya kondisi ini, yaitu:

  • Kebiasaan meletakkan benda di saku celana bagian belakang.
  • Menundukkan kepala terlalu lama.
  • Menggunakan bantal bertumpuk saat tiduran.
  • Menggunakan sepatu hak tinggi.

Jika Anda tidak ingin mengalami kondisi ini, hindarilah melakukan kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik tersebut. 

Pengaruh Baik

Sementara itu, ada pula gaya hidup yang bisa Anda terapkan sebagai upaya mencegah terjadinya gangguan saraf, yaitu berolahraga. Pada dasarnya, segala jenis olahraga dan peregangan sehat untuk tubuh dan membantu Anda menjaga fungsi saraf agar tetap baik. 

Namun, olahraga yang paling disarankan untuk Anda lakukan demi mencegah gangguan saraf adalah berenang. Mengapa? Hal ini disebabkan karena olahraga berenang termasuk olahraga yang bersifat low impact dan low gravity.  Tandanya, olahraga ini relatif aman. Selain itu, selama Anda melakukan olahraga ini dengan benar, Anda akan merasakan manfaat, khususnya dalam mencegah terjadinya gangguan saraf.

Saat berenang, massa tubuh Anda akan lebih ringan karena berada di dalam air. Hal ini menyebabkan kemungkinan terjadinya tumbukan antaratulang yang berpotensi menyebabkan saraf terjepit jadi lebih kecil.  Selain itu, saat melakukan olahraga di dalam air ini, Anda akan menggunakan seluruh bagian tubuh Anda untuk bergerak. Hal ini membuat sirkulasi darah di dalam tubuh menjadi lebih baik lagi. 

Di samping itu, selain berolahraga, Anda juga bisa mengonsumsi suplemen neurotropik seperti vitamin B kompleks dan asam folat untuk menjaga fungsi saraf agar tetap baik. Suplemen tersebut bekerja dengan cara melindungi sel saraf dan serabut saraf dari kerusakan. 

Kapan waktunya ke dokter

Salah satu upaya mencegah terjadinya gangguan saraf atau mengatasi kondisi ini agar tidak menjadi semakin parah adalah memeriksakan diri ke dokter.  Gejala-gejala berikut adalah tanda bahwa sudah saatnya Anda berkonsultasi dengan dokter saraf. 

Rasa sakit atau nyeri  

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, sering kali orang menyepelekan rasa nyeri. Oleh karenanya, Anda harus segera berkonsultasi pada dokter saraf jika mengalami rasa sakit atau nyeri di kepala, leher, punggung, bahu, tangan, kaki, lutut, atau di bagian mana pun pada tubuh Anda.  Pasalnya, saraf memiliki sensorik yang berisi reseptor nyeri. Jika sensorik menangkap rasa nyeri, berarti ada yang salah pada saraf Anda. Oleh karena itu, lebih baik segera periksakan ke dokter. 

Kelemahan

Kelemahan atau kelumpuhan, meski hanya bersifat sementara, tentu bukan pertanda baik untuk kesehatan Anda. Apalagi, jika tenaga Anda semakin berkurang. Ini saatnya Anda pergi menemui dokter saraf untuk memeriksakan kondisi kesehatan.

Kesemutan

Kondisi ini termasuk gejala yang paling disepelekan. Padahal, kesemutan yang tidak disebabkan oleh posisi duduk, saraf terhimpit atau terikat, merupakan salah satu gejala yang harus Anda waspadai. 

Kebas

Kebas, atau mati rasa pada bagian tubuh tertentu yang terjadi secara tiba-tiba menunjukkan adanya masalah yang terjadi pada saraf Anda. Oleh karena itu, jika Anda merasakan kebas, baal, atau mati rasa tanpa sebab tertentu, segera periksakan diri ke dokter saraf. 

Kram 

Jika Anda merasakan kram karena tidak melakukan pemanasan saat berolahraga, itu masih tergolong wajar. Namun, jika kram muncul pada saat-saat tak terduga seperti saat bangun tidur, sedang berjalan kaki, dan di saat-saat tak terduga lainnya, ini bisa menjadi pertanda adanya masalah pada sistem saraf Anda. 

Gangguan keseimbangan

Gangguan keseimbangan atau vertigo merupakan gejala lain dari gangguan saraf. Biasanya, Anda akan merasakan dunia di sekitar seperti sedang berputar atau bergoyang. Jika Anda pernah mengalami kondisi serupa, segera periksakan diri ke dokter spesialis saraf. 

Gangguan memori

Gangguan memori menjadi salah satu masalah yang kerap dialami tapi jarang disadari sebagai tanda gangguan saraf. Salah satu contohnya yaitu lupa di mana letak suatu benda padahal Anda baru saja memindahkannya. Tentu Anda tidak ingin kondisi ini semakin parah hingga membuat Anda pikun. Maka, sebelum hal itu terjadi, segera periksakan diri Anda ke dokter. 

Tubuh terasa tidak simetris 

Mungkin ini adalah gejala gangguan saraf yang cukup menonjol. Sebagai contoh, bibir Anda menjadi tidak simetris dan Anda tidak bisa mengontrolnya. Selain itu, mata atau bahu yang turun sebelah juga bisa menjadi tanda bahwa Anda mengalami gangguan saraf. 

Kejang 

Kejang juga menjadi pertanda lain dari masalah pada sistem saraf Anda. Jika Anda pernah mengalaminya tanpa suatu alasan tertentu, lebih baik periksakan segera periksakan kondisi saraf Anda ke dokter. 

Gerakan menjadi lambat

Jika Anda yang biasanya bisa bergerak dengan cepat dan gesit, tiba-tiba bergerak dengan lamban, Anda patut curiga. Bisa jadi, kondisi ini disebabkan karena adanya gangguan pada sistem saraf Anda. 

Gerakan tidak terampil

Bayangkan jika Anda tiba-tiba tidak bisa melakukan aktivitas-aktivitas ringan, seperti mengancingkan pakaian atau menalikan tali sepatu. Jika Anda tiba-tiba mengalami kesulitan, bahkan tidak bisa melakukannya sama sekali, ini bisa menjadi pertanda adanya gangguan pada saraf. 

Sulit berjalan

Biasanya, Anda bisa berjalan dengan baik tanpa ada masalah. Bahkan, Anda tidak perlu berpikir terlebih dahulu untuk mulai berjalan. Namun, jika Anda mengalami gangguan saraf, bisa saja Anda tiba-tiba kesulitan berjalan. Hal ini terjadi karena adanya masalah koordinasi pada otak Anda. 

Sering pingsan 

Mungkin tidak terpikirkan oleh Anda bahwa sering pingsan juga gejala dari kondisi ini. Anda selama ini mungkin menyimpulkan sering pingsan berarti tubuh terlalu lelah, atau bahkan karena belum makan. Padahal saat pingsan, otak sedang kekurangan oksigen. Sementara, penyebab dari kondisi tersebut beraneka ragam, salah satunya adanya gangguan pada saraf. 

Gangguan tidur 

Apakah Anda sering merasa masih mengantuk meski sudah tidur cukup atau tubuh terus menerus merasa lelah setiap kali bangun tidur? Bisa jadi ini pertanda adanya masalah pada saraf Anda. 

Kondisi tanpa keluhan

Selain kondisi-kondisi yang telah saya sebutkan di atas, ada pula beberapa kondisi yang sebaiknya tetap memeriksakan ke dokter, meski tidak memiliki keluhan, di antaranya adalah: 

Orang dengan riwayat hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah salah satu faktor risiko dari stroke. Oleh sebab itu, jika Anda memiliki riwayat hipertensi, lebih baik Anda juga berkonsultasi ke dokter saraf untuk mencegah terjadinya gangguan pada saraf. 

Penderita diabetes

Anda mungkin berpikir bahwa diabetes tidak ada kaitannya dengan kondisi pada sistem saraf. Padahal, jika kadar gula di dalam tubuh terlalu tinggi, kondisi ini bisa merusak pembuluh darah. Jika sudah demikian, Anda bisa mengalami stroke. Bahkan, Anda bisa mengalami kesemutan, kebas, hingga rasa terbakar pada kedua tangan atau kedua kaki. Kondisi tersebut bisa juga disebut sebagai neuropati diabetes. 

Orang dengan kadar kolesterol tinggi

Kadar kolesterol yang terlalu tinggi dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan gangguan aliran darah. Kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan stroke. 

Jangan sepelekan berbagai gejala yang sudah disebutkan jika belakangan Anda mulai merasakannya. Usahakan juga untuk selalu menerapkan gaya hidup sehat agar terhindar dari berbagai penyakit termasuk masalah pada sistem saraf.

Produk Terkait


Dipublikasikan tanggal 17 May 2020 08:00, dilihat: 113 kali