[javascript protected email address]
Sehat dengan nutrisi dari alam Indonesia.

Metformin amankah untuk Penderita Diabetes?

Waktu baca ± 2 menit

obat-pil-kapsul

Jika seseorang  penderita diabetes sedang /ringan ingin penurunan gulanya tidak menurun drastis, pasti akan mengenal obat yang nama generiknya adalah metformin. Metformin tersedia dalam bentuk tablet 500 mg. Para ahli medis pasti akan meresepkan obat metformin ini jika gula darah puasanya tinggi, dan gula darah acak tinggi ringan yaitu  pada kisaran dibawah 250 mg/dl, karena dengan metformin resiko terjadinya hipoglikemi sangatlah kecil.

Bagaimana pada kondisi ini jika diberikan jenis lain seperti glibenclamid, glimepirid, gliclazid dan sejenisnya? Ternyata hal ini berbahaya karena bisa terjadi hipoglikemia (kadar gula meluncur turun <80 mg/dl), suatu kondisi seseorang sangat berisiko untuk terjadinya stroke dan kematian.

Namun dalam Pembahasan Konsep Karnus, obat metformin ternyata malah lebih bahaya dibanding obat jenis glimepirid. Mengapa demikian? Karena cara kerja metformin berbeda dengan cara kerja glimepirid dkk (yang termasuk dalam obat diabet perangsang pengeluaran insulin).

Gula darah tinggi disebabkan 2 hal yaitu :

Insulin yang keluar untuk merangsang reseptor sel agar bisa menarik gula dari darah ke dalam sel, insulinnya tidak berefek karena reseptor (bisa diistilahkan dgn. kupingnya sel)  sudah tidak peka lagi, sehingga gula dalam darah yang seharusnya bisa masuk sel, gagal masuk sel tubuh dan tertahan di luar sel yaitu di pembuluh darah. Hal inilah yang menyebabkan kenapa gula darahnya tinggi terutama gula darah 2 jam sesudah makan.

Saat sel tubuh gagal memasukkan gula, maka sel tubuh akan memberikan sinyal kepada sistem agar tubuh membuat gula cadangan dari sumber lain (lemak tubuh) yang dibuat oleh organ liver, proses ini disebut glukoneogenesis.

Glukoneogenesis organ liver akan merubah lemak tubuh trigliserida menjadi gula dan keton yang keduanya sangat dibutuhkan terutama untuk energi pengaktifan sel otak dan organ lainnya. Nah pada proses ini memang ada lonjakan gula namun juga lonjakan keton.

Keton adalah sumber energi cadangan yang dihasilkan oleh tubuh untuk menghasilkan energi terutama oleh organ otak, otot, dan ginjal namun liver tidak bisa menggunakan keton ini untuk mencukupi dirinya sendiri. Jika glukoneogenesis ini kinerjanya tidak terkontrol maka akan terjadi lonjakan gula darah puasa.

Nah dari 2 sumber terjadinya gula darah tinggi ini ada 2 jenis obat penurun gula darah (oral antidiabetis=OAD) yaitu

  • Golongan yang bekerja merangsang insulin (obat2an golongan glimepirid, glibenclamid, gliclasid dsb.) yang disebut golongan Sulfonilurea
  • Golongan Biguanid yang bekerja menghambat/mengerem produksi gula hati (obat-obatan jenis Metformin, Phenformin dsb.)

Kenapa obat Metformin lebih berbahaya dibanding sulfonilurea ( golongan glimepirid, glibenclamid, gliclazid)?

Sebenarnya obat penurun gula golongan sulfonilurea juga berbahaya yaitu jika dosisnya berlebihan maka akan menyebabkan bahaya terjadinya hipoglikemi yang berpotensi menyebabkan stroke dan kematian. Namun metformin dipandang lebih  berbahaya karena bisa menyebabkan kerusakan dan kematian sel pada organ liver.

Bedanya kalau efek samping sulfonilurea (perangsang insulin ) adalah langsung bisa dirasakan sedangkan obat golongan biguanide efek sampingnya tidak bisa langsung dirasakan (the sillent killer).

Jika terjadi efek Hipoglikemi maka bisa segera dilakukan pertolongan dengan cara segera konsumsi gula, air gula atau makan snack dll. langkah sesudahnya adalah obatnya diturunkan dosisnya atau tidak minum obat jika kondisinya sdh memungkinkan maka masalah akan teratasi.

Namun efek dari kerusakan hati yang mengarah ke sirosis hepatis, karena efeknya tidak bisa dirasakan maka seseorang tanpa sadar akan masuk ke kerusakan liver permanen tanpa tahu kapan harus mencegahnya kecuali mereka yang sudah membaca tulisan ini.

Sirosis hepatis saat ini tidak ada obatnya jika seseorang mengalami sirosis hepatis lalu sel dan organ livernya rusak permanen maka sudah bisa dipastikan hidupnya tidak akan bisa lama, kecuali memungkinkan untuk dilakukan cangkok liver seperti kasusnya Pak Dahlan Iskan (Pendiri jawa pos group).

Produk Terkait

Testimoni

Diabetes
Iksan (50), Jombang
 
Diabetes
Ratih Nur Kartika, Surabaya
 

Dipublikasikan tanggal 20 Jul 2022 08:00, dilihat: 1.158 kali
 https://alga-rosan.com/p469