[javascript protected email address]
Sembuh dan sehat dengan nutrisi dari alam Indonesia.

Pemanis Buatan

Waktu baca ± 8 menit

zz_bahaya-pemanis-buatan

Assalamu'alaikum Sahabat Karnus,⁣⁣

⁣Pemanis buatan merupakan bahan-bahan sintetis yang digunakan untuk menggantikan gula. Kendati lekat dengan istilah "sintetis" dan "buatan", pemanis yang banyak terdapat dalam produk kemasan ini biasanya dibuat dari bahan alami, termasuk gula pasir. Gula pasir akan melewati serangkaian proses kimiawi sebelum menjadi pemanis buatan. Hasil akhir dari proses tersebut adalah pemanis buatan yang tingkat kemanisannya bisa mencapai 600 kali lipat dari bahan bakunya.

Sebenarnya, ada banyak jenis pemanis buatan. Namun, yang paling umum digunakan pada produk makanan serta minuman adalah aspartam dan sukralosa.

Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika (FDA) telah mengizinkan penggunaan enam jenis pemanis buatan, yakni sakarin, aspartam, sukralosa, neotame, acesulfame-K, dan stevia. Keenam pemanis buatan itu dianggap aman untuk kesehatan, jika dikonsumsi dalam batas wajar yang sudah ditentukan.

Karena mengandung nol atau kalori yang sangat rendah, pemanis buatan diizinkan penggunaannya sebagai pengganti gula dalam beberapa kondisi. Misalnya, untuk membantu menurunkan berat badan, menjaga agar gigi tidak berlubang, serta membantu penderita diabetes mellitus untuk mengontrol kadar gula darah tetap stabil.

Bahaya Pemanis Buatan Bagi anak-anak

Pemanis buatan sering digunakan dalam produk-produk berlabel "diet" atau "bebas-gula". Mengingat kalorinya hanya nol, produk mengandung pemanis buatan juga diyakini dapat membantu menurunkan berat badan. Namun, penelitian dalam jurnal Toxicological & Environmental Chemistry menunjukkan hasil sebaliknya. Anak-anak yang diberikan minuman mengandung pemanis buatan memiliki kadar plasma sukralosa darah yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

Meski tidak memiliki bahaya langsung untuk kesehatan, plasma sukralosa yang tinggi akibat konsumsi pemanis buatan akan bertahan dalam tubuh anak. Hal ini disebabkan karena ginjal anak belum mampu membuang zat berlebih secara efektif.

Tingginya konsumsi pemanis buatan pada anak-anak lantas dapat memengaruhi selera makan mereka saat dewasa. Seiring masa pertumbuhan, anak yang sering terpapar makanan mengandung pemanis buatan biasanya akan terus mengonsumsinya.

Mereka cenderung lebih banyak makan manis ketika tumbuh besar. Selain karena indra pengecapannya telah terbiasa dengan rasa manis, mereka pun mengonsumsi makanan manis lain karena menganggap pemanis buatan tidak memicu kegemukan.

Makanan manis yang tidak menggunakan pemanis buatan biasanya mengandung kalori berlebih. Seiring waktu, asupan kalori berlebih dari makanan manis dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, serta penyakit terkait gangguan metabolisme lainnya.

Bahaya pemanis buatan mungkin tidak langsung tampak pada anak. Padahal, konsumsi pemanis buatan dalam jumlah banyak bisa memengaruhi pola makan anak. Anak juga berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan di kemudian hari.

Bahaya Pemanis Buatan bagi Kesehatan

Jika dikonsumsi dalam batas aman, sebenarnya pemanis buatan tidak berbahaya bagi kesehatan. Akan tetapi, tidak jarang masyarakat yang mengkonsumsi pemanis buatan terlalu banyak sehingga berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan. Hal ini pernah diteliti oleh beberapa peneliti. Berikut beberapa bahaya mengonsumsi pemanis buatan secara berlebihan:

1. Membuat Anda Kecanduan Gula

Karena rasanya yang lebih manis dibandingkan gula, orang-orang yang kerap menggunakan pemanis buatan memiliki standar rasa manis yang lebih tinggi. Lidah mereka sudah terbiasa dengan kadar rasa manis yang tinggi. Hasilnya, mereka tidak dapat lagi mengonsumsi minuman yang tidak manis seperti kopi pahit dan teh tawar. Begitu pula dengan makanan, mereka akan lebih cenderung memilih makanan dengan rasa yang sangat manis.

Ujung-ujungnya, konsumsi gula akan lebih banyak. Kondisi ini tentu dalam jangka panjang akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.

2. Dapat Menyebabkan Kanker

Pada 1970, pemanis buatan jenis siklamat diduga menyebabkan kanker sehingga peredarannya ditarik dari pasaran. Saat ini jenis pemanis siklamat sudah tidak beredar di pasaran. Namun demikian, Anda perlu hati-hati dalam penggunaan pemanis buatan. Jangan menggunakan pemanis buatan secara berlebihan jika tidak ingin mendapatkan efek samping yang tidak diinginkan, seperti kanker.

3. Berpotensi Picu Kepanikan

Pada orang yang memiliki gangguan panik, penggunaan pemanis buatan secara berlebih juga dapat memicu kambuhnya serangan panik. Jika serangan panik muncul berulang, pasti akan mengganggu kualitas hidup seseorang. Bahkan, serangan panik berulang dapat memicu munculnya masalah baru, yaitu depresi. Itulah mengapa Anda dianjurkan untuk tidak mengonsumsi pemanis buatan secara berlebihan.

4. Berisiko Sebabkan Penyakit Kronis

Penelitian yang dilakukan di Inggris selama 11 tahun menemukan, orang yang mengonsumsi dua kaleng makanan/minuman yang mengandung pemanis buatan berisiko peningkatan beberapa penyakit kronis. Misalnya, penyakit ginjal kronis dan penyakit jantung koroner.

5. Memicu Naiknya Berat Badan

Ironi dengan tujuan awal penggunaan pemanis buatan untuk menurunkan berat badan, ternyata mengonsumsi pemanis buatan berlebih justru dapat meningkatan berat badan. Hal ini didukung oleh sebuah penelitian di San Antonio terhadap lebih dari 5.000 orang. Hasil penelitian justru menunjukkan bahwa konsumsi pemanis buatan secara rutin dapat meningkatkan berat badan.

6. Memicu Peningkatan Gula Darah

Penelitian mengenai penggunaan pemanis buatan pada penderita diabetes tipe 2 menunjukkan bahwa beberapa jenis pemanis buatan, seperti aspartame dan sukralosa, tetap dapat memicu peningkatan gula darah. Itulah mengapa, jika Anda menderita diabetes, sebaiknya tidak mengonsumsi jenis pemanis buatan aspartame dan sukralosa.

7. Tinggi Zat Kimia

Pemanis buatan diciptakan dari berbagai zat kimia untuk meniru rasa manis alami gula. Walaupun ada pemanis buatan yang bersifat alami, seperti pemanis dari daun stevia atau pemanis gula jagung, banyak juga pemanis buatan yang dibuat dari bahan kimia sintetis. Dalam jangka panjang, zat kimia sintetis dalam tubuh tentu dapat menimbulkan berbagai dampak buruk jika dikonsumsi berlebihan.

Nama-nama Pemanis Buatan

Aspartam

Aspartam adalah pemanis buatan yang paling sering digunakan dalam industri makanan, karena tidak menyisakan after taste pahit. Tapi derajat kemanisannya sangat tinggi, sekitar 60-220 kali gula murni. Dari semua pemanis buatan, hanya aspartam yang mengalami metabolisme dalam tubuh. Aspartam dirombak secara cepat dan sempurna menjadi asam amino asam aspartat, fenilalanin dan metanol. Meski tak mengandung kalori, batas konsumsinya hanya 50 ml/kg berat badan.

Asesulfam Potassium (Acesulfame-K)

Selain aspartam, Acesulfame-K juga sering ditambahkan dalam produk makanan dan minuman kemasan di Indonesia. Bedanya, pemanis ini akan dikeluarkan melalui urine tanpa mengalami perubahan. Karena tingkat kemanisannya tinggi sekitar 200 kali gula pasir, penggunaan asesulfam sebaiknya dibatasi dalam dosis yang kecil. Apalagi kalau penggunaannya dibarengi zat pemanis lain. 

Siklamat

Siklamat punya derajat kemanisan 30 kali gula pasir. Hasil penelitian Codex Alimentarius Commissions pada 1984 menyimpulkan bahwa siklamat tidak terbukti menyebabkan mutagen dan kanker. Meski demikian, Amerika Serikat dan Kanada tidak mengizinkan penggunaan siklamat. Di Indonesia, penggunaannya dibolehkan BPOM selama dosisnya tepat. 

Sakarin

Pelopor pemanis buatan sejak seabad lalu ini punya indeks kemanisan 300-500 dari gula pasir. Sejauh ini, penggunaan sakarin masih diizinkan BPOM dalam takaran wajar. Namun perlu hati-hati, karena mulai banyak penelitian yang menyimpulkan kalau konsumsi sakarin bisa berpotensi menimbulkan kegemukan.

Sukralosa

Sukralosa punya rasa 600 kali lebih manis dari gula murni. Meski demikian, sukralosa tidak dapat dicerna tubuh, sehingga tak berpengaruh pada gula darah. Tak seperti gula, pemanis ini tidak menyebabkan kerusakan pada gigi atau potensi penyakit lainnya seperti diabetes. Kelebihan lainnya, sukralosa juga bisa diolah dalam suhu tinggi tanpa mengurangi rasa manisnya.

Eritritol

Eritritol merupakan gula alkohol dengan derajat kemanisan kecil dibanding lainnya, yakni 0,7 kali gula pasir. Pemanis ini termasuk Generally Recognized As Safe atau GRAS, yang cenderung aman digunakan. Lebih dari 90 persen eritritol yang diserap usus halus dikeluarkan melalui urine tanpa perubahan dalam kurun waktu 24 jam. Nilai kalori yang terkandung hanya 0,2 kkal/gram sehingga tak menyebabkan karies gigi, gula darah, dan insulin penderita diabetes.

Neotam

Pemanis turunan aspartam ini punya derajat kemanisan yang sangat tinggi, yaitu 7.000 – 13.000 kali gula. Beberapa studi menyebutkan neotam aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan efek buruk khusus. Penambahan neotam pada konsentrasi tertentu dapat menghilangkan rasa pahit, rasa mentah, dan rasa nutty dari produk kacang kedelai. Ketika dikonsumsi,  neotam dapat dimetabolisis dan tidak akan terakumulasi di dalam tubuh, karena akan dikeluarkan melalui urin atau feses.

Isomalt

Isomalt dibuat dari sukrosa (gula pasir) dan memiliki derajat kemanisan 0,45-0,65 kali gula murni. Sama seperti eritritol, isomalt termasuk GRAS, aman untuk gigi, dan tak menyebabkan kenaikan gula darah penderita diabetes I atau II.

Xylitol (Silitol)

Silitol punya nilai kalori 2,4 kkal/gram yang tergolong rendah. Gula alkohol ini punya derajat  kemanisan satu kali  gula pasir dan termasuk GRAS (Generally Recognized As Safe). Karena tidak menyebabkan karies gigi, kebanyakan silitol digunakan sebagai campuran permen.

Sorbitol

Sama seperti silitol, sorbitol seringkali dijadikan pemanis dalam produk permen karena tak menimbulkan karies gigi. Sorbitol termasuk glukosa dengan derajat kemanisan 0,5-0,7 kali gula pasir. Selain pemanis, zat ini juga bisa menjadi humektan, pengental, dan mencegah terbentuknya kristal pada sirup. Sedangkan, bagi penderita diabetes dan pelaku diet rendah kalori, sorbitol aman dikonsumsi selama tak berlebihan.

Maltitol

Maltitol adalah gula alkohol dengan derajat kemanisan 0,9 kali gula pasir.  Umumnya dikenal aman karena termasuk GRAS. Zat pemanis ini dibuat dengan cara hidrogenasi maltosa yang diperoleh dari hidrolisis pati. Namun, kandungannya tak menyebabkan kerusakan gigi atau peningkatan insulin pada penderita diabetes.

Manitol

Manitol termasuk GRAS (Generally Recognized As Safe) dan merupakan gula alkohol dengan derajat kemanisan 0,5-0,7 kali gula pasir. Dapat digunakan sebagai pengganti gula bagi penderita diabetes dan aman untuk kamu yang lagi berdiet, karena kalorinya hanya 1,6 kkal/gram. Tapi perlu diperhatikan, konsumsi manitol lebih dari 20 gram per hari akan berefek laksatif.

Laktitol

Derajat kemanisan Laktitol berkisar 0,3-0,4 kali gula pasir. Termasuk GRAS atau umumnya dikenal aman karena tak merusak gigi. Laktitol juga banyak dimanfaatkan dalam produk khusus penderita diabetes. Sama dengan manitol, konsumsi laktitol perhari lebih dari 20 gram akan berefek laksatif.

Walau pun pemanis buatan tersebut cenderung aman digunakan daripada gula, tapi perlu diingat, ada bahaya yang mengintai kalau konsumsinya berlebihan. Apalagi, makanan dan minuman instan biasanya menggunakan lebih dari satu macam pemanis.

Pengganti Gula Alami

Daun Stevia

Stevia merupakan tanaman yang tumbuh di negara-negara beriklim tropis, salah satunya Indonesia. Meski begitu, belum banyak yang familiar dengan daun satu ini, karena stevia termasuk baru dalam pemanis pengganti. Keunggulan pemanis stevia adalah bebas kalori dan gula, sehingga aman bagi penderita diabetes. Kamu yang ingin mengurangi konsumsi gula atau sedang diet juga bisa memanfaatkan tanaman ini. Kini sudah ada stevia bubuk mirip pasir.

Sirup Jagung

Sirup jagung tinggi fruktosa ini banyak digunakan sebagai pemanis buatan dalam makanan olahan atau minuman kemasan. Di dalamnya banyak sekali kandungan glukosa. Beberapa glukosa mungkin akan diubah dengan bantuan enzim menjadi bentuk fruktosa. 

Meski bisa menjadi pengganti gula, penggunaan sirup jagung berlebihan juga tak disarankan. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi sirup jagung tinggi fruktosa  berhubungan dengan obesitas dan masalah kesehatan lainnya, seperti penyakit jantung dan diabetes.

Madu

Madu dihasilkan dari sari bunga yang dikumpulkan lebah, ekstrak tersebut diubah dalam bentuk sirup sebagai bahan pangan koloni lebah. Rasanya yang manis membuat madu sering dijadikan pengganti gula.

Sebenarnya, jumlah kalori dalam madu lebih besar dari gula pasir. Bedanya, madu tak meningkatkan gula darah dalam waktu cepat. Kelebihan lainnya adalah kandungan vitamin B dan C yang baik untuk imunitas, serta potassium untuk meredakan sakit tenggorokan.

Sirup Maple

Sirup ini merupakan ekstrak getah pohon maple. Satu sendok makan sirup maple murni mengandung 52 kalori dan 13,5 gram karbohidrat. Sekitar 12,4 gram kandungan karbohidrat itu merupakan sukrosa. Jumlah sukrosa ini bahkan lebih sedikit dibanding madu. Selain itu, sirup maple juga mengandung zinc, magnesium, dan zat besi yang baik untuk ketahanan tubuh.

Agave Nektar

Agave nektar punya banyak kelebihan dibanding gula. Di antaranya indeks glikemik rendah dan bisa mengurangi sensitivitas insulin (tidak meningkatkan gula darah secara cepat). Pasalnya, agave nektar punya kandungan fruktosa lebih banyak daripada gula.

Proses pembuatan agave nektar memerlukan waktu lebih lama. Sirup ini dihasilkan dari tanaman yang sama dengan tequila, lalu harus melalui serangkaian proses agar karbohidrat bisa dipecah jadi gula. Jumlah kalorinya hampir sama dengan madu, bedanya agave nektar tidak mengandung antioksidan.

Sirup Beras Merah Rendah Kalori

Sirup beras merah ini cocok untuk kamu yang sedang cari alternatif gula, karena rendah kalori. Rasanya mirip karamel dan butterscotch. Satu sendok sirup beras merah hanya mengandung 13 kalori. Selain rendah kalori, sirup ini memiliki kandungan lain seperti magnesium, zink, dan vitamin.

Gula Aren

Kandungan karbohidrat dan kalori gula aren sama seperti gula pasir. Dalam setiap sendok tehnya, gula aren dan gula putih mengandung 16 kalori. Tapi tingkat sukrosanya hanya 70-79 persen, jauh lebih rendah dibanding gula putih yakni 99-100 persen.

Meski pengganti gula, pemanis alami belum pasti lebih sehat kalau dikonsumsi secara berlebihan.  Faktanya, tidak ada perbedaan signifikan dari kandungan vitamin dan mineral antara gula tebu dan pemanis alami lainnya.


Dipublikasikan tanggal 28 Jan 2020 09:00, dilihat: 157 kali