Waktu baca ± 1 menit
Profesor merupakan jabatan akademik tertinggi pada satuan pendidikan tinggi. Di tangan merekalah lahir para Doktor. Sedangkan untuk mencapai Doktor saja perlu promotor seorang Profesor dan 2 orang co promotor.
Ternyata, seorang Profesor pun, sampai detik akhir kehidupannya masih harus menjalani ujian. Siapa lagi yang berhak untuk menguji seorang Profesor ?. Apakah teman teman sesama Profesor, Rektor atau Dekan ?.
Ternyata bukan. Beliau diuji oleh yang menciptakannya, yaitu Allah SWT. Bagaimana cara Allah mengujinya?
Kisah nyata ini terjadi di salah satu RS khusus penanganan Covid.
Seorang Profesor ahli Paru, qadarullah diserang Covid. Oleh anaknya yang juga ahli Paru, dibawa berobat dan perlu segera dirawat di Rumah sakit tersebut. Beberapa hari perawatan, ternyata sang profesor mengalami sesak napas dan memerlukan ICU untuk pemasangan ventilator.
Anda tahu, titik akhir penyelamatan nyawa pasien, sebagai usaha maksimal yang bisa dilakukan dokter adalah pemasangan ventilator.
Di tempat lain, pernah kejadian, seorang pejabat yang dengan kekuasaannya, berebut ventilator dengan seorang ibu hamil yang juga memerlukannya. Akhirnya si pejabat berhasil mendapatkan ventilator, yang akhirnya meninggal. Sedangkan ibu hamil tersebut juga meninggal.
Di sisi lain, seorang Profesor ini sebelum dilakukan pemasangan ventilator, menilai sendiri kondisi parunya melalui CT scan dan laboratorium lainnya. Dari ilmunya sang Profesor berkesimpulan, ventilator ini sebaiknya diberikan saja pada orang yang hanya berpotensi untuk sembuh.
MasyaAllah. Dengan ikhlas dia tolak ventilator yang telah dipersiapkan sebelumnya. Hanya dalam hitungan jam, beliau menghembuskan napas terakhir. Insya Allah beliau husnul khatimah.
Dari sini kita dapat memetik hikmahnya bahwa, Allah telah menetapkan ajal seorang manusia, tidak sedetikpun berkurang atau lebih. Keikhlasan untuk berbagi inilah, mungkin titik akhir ujian beliau.
Pada "last minute" terakhir akan tergambar sifat mulia tidaknya seseorang sebelumnya. Sesuai arti namanya, "menolong" sesama.
Siapakah sang Profesor tersebut ?
Prof. Dr. dr. Taufik, Sp.P(K)
Oleh : Mardisyaf Ramli (FK 73)