Waktu baca ± 1 menit
Vitamin alami adalah vitamin yang diproduksi oleh mahluk hidup, misalnya buah, sayur, sereal dan beberapa makanan hewani. Misalnya:
Sedangkan vitamin sintetik adalah vitamin yang dibuat oleh tangan manusia melalui proses kimia dan enzimatik di dalam industri dengan bahan baku polimer makanan. Mayoritas suplemen multivitamin yang dibuat oleh industri adalah golongan vitamin sintetik.
Industri vitamin hanya berfokus pada bentuk molekul vitamin yang akan diproduksi, misalnya:
Jadi, kalau melihat bentuk molekul vitamin ini maka apabila dibuat secara industri akan melibatkan reaksi kimia yang rumit, hal ini akan berdampak pada sifat vitamin yang dihasilkan akan berbeda dengan sifat vitamin alami karena ada senyawa penyerta pada produk yang dihasilkan.
Di dalam setiap reaksi kimia pasti ada senyawa lain sebagai hasil samping atau limbah, hal ini sangat sulit dipisahkan dari produk vitamin sintetis yang dihasilkan. Contoh: pada produksi vitamin E menggunakan toluene sebagai bahan baku, maka sisa toluene tidak boleh ada di produk vitamin E yang dihasilkan.
Pertanyaannya, apakah industri bisa menjamin 100% toluene tersebut sudah hilang dari vitamin E yang diproduksi? Padahal toluene berbahaya bagi kesehatan. Belum lagi bahan baku yang lain yaitu 2,3,5-trimethyl-hydroquinone. Apakah industri bisa memastikan senyawa tersebut tidak ada dalam produk vitamin E yang dihasilkan?
Bijaklah dalam memahami kebutuhan tubuh. Vitamin hanya sebagai koenzim dan sebagian bersifat hormon (vit. D3) . Tubuh hanya membutuhkan dalam jumlah yang sedikit, dan itu semua sudah ada di makanan kita. Kita hanya perlu memastikan bahwa vitamin dari makanan kita ini berhasil "dibebaskan" dari zat pengikatnya sehingga bisa diserap oleh darah untuk diberikan ke seluruh sel.
Dan, yang membebaskan vitamin dari zat pengikat itu adalah Asam Lambung. Jadi, perbaiki kinerja lambung Anda, makan kebutuhan vitamin Anda akan tercukupi